Tips Buka Usaha Rumahan
Kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, kadang panas kadang hujan, kerap membuat orang malas bepergian. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, selain udara
memang panas, udara sudah tidak nyaman karena terlalu banyak asap kendaraan. Apalagi jika terjebak kemacetan yang kian mengular, perjalanan yang jaraknya tidak seberapa bakal menyita banyak energi.
Membayangkan hal-hal seperti itu pasti bisa membuat orang malas berangkat ke kantor.
Kondisi seperti ini menginspirasi banyak orang untuk memulai bisnis dari rumah.
Pebisnis mulai melirik ceruk usaha yang bisa dikendalikan dari rumah. Jikapun sang
suami tetap bekerja di luar rumah, sang istri biasanya berusaha membuat bisnis
kecil-kecilan di rumah. Bagaimana mengawali usaha dari rumah? Itulah kata-kata yang paling banyak dicari
terutama di Indonesia. Ya, bekerja dari rumah, mengapa tidak? Bagaimana cara orang-orang lain yang memulai usaha mereka dari rumah? Dan apa saja kendala
ataupun strategi untuk mencapai keberhasilan?
Kami memang baru memulai usaha sebuah toko buku mini ‘Dekadeku’ di
komplek perumahan yang kami tempati di Kav Pelita Air, Griya Pelita Blok C1/4 Rangkapan Jaya Baru, Depok. Tapi tak ada salahnya bila berbagi sedikit tips:
Suatu tempat yang ramai belum tentu berpotensi baik untuk bisnis. Sebaliknya sebuah lokasi yang sepi, belum tentu juga jelek untuk melakukan usaha. Kita harus lebih memperhatikan akan fenomena-fenomena yang ‘menyesatkan’. Ada tempat usaha yang terletak di pinggir jalan besar yang selalu ramai, sehingga sepintas seakan-akan berada di lokasi yang strategis. Tapi pada kenyataannya, tempat usaha itu sendiri tidak pernah bisa ramai. Kenapa? Ternyata keletakannya ada di ‘jalur cepat’, yaitu di sebuah ruas jalan yang memang ramai dilalui berbagai kendaraan, namun merupakan jalur perlintasan di mana kendaraan-kendaraan melesat dengan kencangnya sehingga tidak ada peluang para penumpang di dalam kendaraan tersebut untuk memperhatikan keberadaan unit usaha di tepi jalan. Maka,perlu dipertimbangkan untuk mencari lokasi bisnis yang keletakannya ada di pinggir jalan besar yang ramai, tapi kendaraan-kendaraan melintas dengan kecepatan lambat.Di lain pihak, kita harus memperhatikan juga adanya lokasi usaha yang sepintas sudah memenuhi syarat. Misalnya, orang cukup banyak yang lalu-lalang, dan letaknya di pinggir jalan yang kendaraan-kendaraannya berjalan dengan lambat. Tapi, bila suasana sekitar gelap, tidak ada penerangan yang memadai, ditambah lagi tidak ada pula tetangga yang berjualan di situ, hampir pasti lokasi yang demikian itu juga kurang bagus untuk menjalankan usaha.
Ciri-ciri lokasi usaha yang berpeluang bagus antara lain adalah, tempat tersebut ramai dengan kesibukan belanja. Banyak sekali pedagang di sana, meliputi ruko-ruko yang dipakai untuk toko kelontong,rumah makan, bank, dan biasanya, pada sore hari terdapat juga semacam ‘pasar kaget’, berupa tenda-tenda yang biasanya didominasi oleh para pedagang makanan. Kerumunan orang-orang yang berbelanja,keluarga-keluaga yang ‘nongkrong’ di tempat makan di pasar kaget, serta orang berlalu-lalang di antara kepulan asap penggorengan pedagang makanan, adalah merupakan ciri-ciri kawasan usaha yang telah ‘hidup’. Jalanan di sekitar biasanya penuh dan macet dengan antrean kendaraan yang berjalan lambat. Untuk daerah-daerah semacam itu,potensi bisnis dalam radius 500 meter sekitarnya biasanya cukup baik. Kalau kita kesulitan mendapatkan tempat usaha di lokasi ramai seperti di atas, dan tetap ingin berbisnis di dalam kompleks perumahan, itu masih mungkin. Asalkan kita perhatikan kompleks perumahan itu karakternya seperti apa, adakah itu pemukiman keluarga muda yang kosong pada hari kerja, ataukah merupakan kawasan residensial yang sudah mapan,sehingga sudah memiliki kehidupan internal yang sibuk.Kalau kita tinggal dekat dengan kawasan industri, yang di situ banyak dihuni karyawan pabrik, maka kemungkinan sekali potensi bisnisnya cukup menjanjikan. Sebab, karyawan pabrik termasuk golongan penghuni yang berkesibukan lokal, berkeluarga yang kesibukannya juga lokal. Dengan demikian, aktivitas bisnis setempat pun cepat terbentuk.Komoditas Yang Dijual Serta Layanan Pesan-Antar Salah satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian kita dalam berbisnis di kawasan satelit adalah soal produk atau komoditas yang akan dijual. Di kawasan semacam ini, berlaku juga semacam ‘perilaku konsumen’ yang menginginkan ketersediaan produk-produk tertentu.Bidang-bidang usaha yang tampaknya mendapat respons positif dari konsumen kawasan, biasanya berhubungan langsung dengan kebutuhan warga yang tinggal di daerah baru. Bidang-bidang tersebut meliputi bidang makanan (restoran,rumah makan, tempat jajan), pelayanan kesehatan (klinik, praktek dokter 24 jam), otomotif (bengkel dan/atau suku cadang motor dan mobil), toko material bangunan, toko kelontong (kebutuhan seari-hari), pendidikan anak (sekolah dan kursus-kursus), salon perawatan kecantikan, showroom mobil dan motor. Ada juga yang agak sedikit khas, yaitu pelayanan internet lokal berbasis wireless, layanan TV berbayar via satelit (karena layanan broadband via kabel serat fiber biasanya belum menjangkau daerah pinggir kota) serta keagenan media cetak. Bidang-bidang usaha seperti software house, toko komputer serta show room mobil mewah, kelihatannya belum terekomendasikan sampai saat ini.Last but not least, ada satu lagi fenomena yang kurang mendapat perhatian kita, tapi sebenarnya sangat penting. Yaitu, layanan pesan antar (delivery service)! Seperti diketahui, keberadaan perumahan di kawasan satelit adalah disebabkan kebutuhan tempat tinggal bagi kaum muda yang bekerja di kota.Mereka adalah pekerja keras yang selalu lelah setibanya di rumah. Oleh sebab itu,mereka membutuhkan layanan pesan antar yang memuaskan guna memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah kebutuhan makanan dan minuman,barang kelontong, binatu (laundry), dan beberapa lainnya. Kalau kita mau sedikit cerdas, jalankanlah layanan pesan antar ini, maka peluang kita untuk berhasil akan naik sekitar 40–50 persen. Maka , jangan heran kalau di kawasan perumahan baru, ada rumah makan atau toko yang sehari-harinya sepi pengunjung, tapi dari tahun ke tahun tetap eksis. Ternyata, usaha mereka lebih banyak didukung oleh layanan pesan-antar ini. Selamat mencoba
- Pikirkan atau tulislah hal-hal apa saja yang Anda ingin lakukan dari berbisnis dari rumah
- Berpikirlah dan berperasaan positif tentang apa saja yang mungkin bisa menjadi peluang Anda
- Usahakan secepat mungkin langsung MELAKUKAN SAJA. (kalo perlu analisa belakangan sambil jalan)
- Setiap usaha tidak harus bermodal besar. Gunakan apa saja aset yang Anda miliki. Seperti, pengetahuan Anda, hobi Anda, ketrampilan Anda, rumah Anda,keluarga Anda, kenalan Anda, uang Anda dan lainnya.
- Setiap usaha tidak akan selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka berusahalah terus menggapai impian
- Setiap keinginan pasti ada tanggung jawab dan setiap tanggung jawab ada perbuatan.
- Usahakan bekerja dan berusaha dengan jujur (Anda tentunya tidak ingin mendapat uang dengan cara tidak HALAL bukan?)
Suatu tempat yang ramai belum tentu berpotensi baik untuk bisnis. Sebaliknya sebuah lokasi yang sepi, belum tentu juga jelek untuk melakukan usaha. Kita harus lebih memperhatikan akan fenomena-fenomena yang ‘menyesatkan’. Ada tempat usaha yang terletak di pinggir jalan besar yang selalu ramai, sehingga sepintas seakan-akan berada di lokasi yang strategis. Tapi pada kenyataannya, tempat usaha itu sendiri tidak pernah bisa ramai. Kenapa? Ternyata keletakannya ada di ‘jalur cepat’, yaitu di sebuah ruas jalan yang memang ramai dilalui berbagai kendaraan, namun merupakan jalur perlintasan di mana kendaraan-kendaraan melesat dengan kencangnya sehingga tidak ada peluang para penumpang di dalam kendaraan tersebut untuk memperhatikan keberadaan unit usaha di tepi jalan. Maka,perlu dipertimbangkan untuk mencari lokasi bisnis yang keletakannya ada di pinggir jalan besar yang ramai, tapi kendaraan-kendaraan melintas dengan kecepatan lambat.Di lain pihak, kita harus memperhatikan juga adanya lokasi usaha yang sepintas sudah memenuhi syarat. Misalnya, orang cukup banyak yang lalu-lalang, dan letaknya di pinggir jalan yang kendaraan-kendaraannya berjalan dengan lambat. Tapi, bila suasana sekitar gelap, tidak ada penerangan yang memadai, ditambah lagi tidak ada pula tetangga yang berjualan di situ, hampir pasti lokasi yang demikian itu juga kurang bagus untuk menjalankan usaha.
Ciri-ciri lokasi usaha yang berpeluang bagus antara lain adalah, tempat tersebut ramai dengan kesibukan belanja. Banyak sekali pedagang di sana, meliputi ruko-ruko yang dipakai untuk toko kelontong,rumah makan, bank, dan biasanya, pada sore hari terdapat juga semacam ‘pasar kaget’, berupa tenda-tenda yang biasanya didominasi oleh para pedagang makanan. Kerumunan orang-orang yang berbelanja,keluarga-keluaga yang ‘nongkrong’ di tempat makan di pasar kaget, serta orang berlalu-lalang di antara kepulan asap penggorengan pedagang makanan, adalah merupakan ciri-ciri kawasan usaha yang telah ‘hidup’. Jalanan di sekitar biasanya penuh dan macet dengan antrean kendaraan yang berjalan lambat. Untuk daerah-daerah semacam itu,potensi bisnis dalam radius 500 meter sekitarnya biasanya cukup baik. Kalau kita kesulitan mendapatkan tempat usaha di lokasi ramai seperti di atas, dan tetap ingin berbisnis di dalam kompleks perumahan, itu masih mungkin. Asalkan kita perhatikan kompleks perumahan itu karakternya seperti apa, adakah itu pemukiman keluarga muda yang kosong pada hari kerja, ataukah merupakan kawasan residensial yang sudah mapan,sehingga sudah memiliki kehidupan internal yang sibuk.Kalau kita tinggal dekat dengan kawasan industri, yang di situ banyak dihuni karyawan pabrik, maka kemungkinan sekali potensi bisnisnya cukup menjanjikan. Sebab, karyawan pabrik termasuk golongan penghuni yang berkesibukan lokal, berkeluarga yang kesibukannya juga lokal. Dengan demikian, aktivitas bisnis setempat pun cepat terbentuk.Komoditas Yang Dijual Serta Layanan Pesan-Antar Salah satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian kita dalam berbisnis di kawasan satelit adalah soal produk atau komoditas yang akan dijual. Di kawasan semacam ini, berlaku juga semacam ‘perilaku konsumen’ yang menginginkan ketersediaan produk-produk tertentu.Bidang-bidang usaha yang tampaknya mendapat respons positif dari konsumen kawasan, biasanya berhubungan langsung dengan kebutuhan warga yang tinggal di daerah baru. Bidang-bidang tersebut meliputi bidang makanan (restoran,rumah makan, tempat jajan), pelayanan kesehatan (klinik, praktek dokter 24 jam), otomotif (bengkel dan/atau suku cadang motor dan mobil), toko material bangunan, toko kelontong (kebutuhan seari-hari), pendidikan anak (sekolah dan kursus-kursus), salon perawatan kecantikan, showroom mobil dan motor. Ada juga yang agak sedikit khas, yaitu pelayanan internet lokal berbasis wireless, layanan TV berbayar via satelit (karena layanan broadband via kabel serat fiber biasanya belum menjangkau daerah pinggir kota) serta keagenan media cetak. Bidang-bidang usaha seperti software house, toko komputer serta show room mobil mewah, kelihatannya belum terekomendasikan sampai saat ini.Last but not least, ada satu lagi fenomena yang kurang mendapat perhatian kita, tapi sebenarnya sangat penting. Yaitu, layanan pesan antar (delivery service)! Seperti diketahui, keberadaan perumahan di kawasan satelit adalah disebabkan kebutuhan tempat tinggal bagi kaum muda yang bekerja di kota.Mereka adalah pekerja keras yang selalu lelah setibanya di rumah. Oleh sebab itu,mereka membutuhkan layanan pesan antar yang memuaskan guna memenuhi kebutuhannya. Termasuk dalam hal ini adalah kebutuhan makanan dan minuman,barang kelontong, binatu (laundry), dan beberapa lainnya. Kalau kita mau sedikit cerdas, jalankanlah layanan pesan antar ini, maka peluang kita untuk berhasil akan naik sekitar 40–50 persen. Maka , jangan heran kalau di kawasan perumahan baru, ada rumah makan atau toko yang sehari-harinya sepi pengunjung, tapi dari tahun ke tahun tetap eksis. Ternyata, usaha mereka lebih banyak didukung oleh layanan pesan-antar ini. Selamat mencoba